Islam adalah agama yg mengatur seluruh seluk beluk kehidupan manusia, dari bangun tidur sampe mau tidur lagi. Nah, untuk urusan cinta-cintaan ni, Islam juga ngatur dengan caranya sendiri yg udah pasti sesuai sama kebutuhan manusia. Dan cinta itu sebenarnya suatu rahmat yg nikmat, bukan hal bejat yg mengundang maksiat. Nih, saking sempurnanya Islam, sampe-sampe ada urutan dalam menyusun cinta, Masya Allaah.. Langsung aja ya disantap postingannya. eitts, jgn lupa ya baca basmalah dulu sebelum baca, supaya dapat rahmat dari Allaah SWT.
....BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM...
1. Derajat pertama (tertinggi), adalah cinta dalam
bentuk tatayyum, cinta dalam bentuk tatayyum ini adalah cinta kepada Sang
Khaliq. Ia berada pada derajat tertinggi. Tidak ada lagi yang diduakan. Cinta
tatayyum adalah kecintaan totalitas. Ruang besar tanpa batas. Tanpa reserve. Cinta
penghambaan. Cinta yang membudakkan. Artinya siap menjadi budak-Nya. Apa kata
Dia, yang dilakukan dengan penuh cinta pula. Sebab Dia telah melimpahkan
semuanya dengan cinta. Laa yajidu fii anfusihim khorojan, wayusallimuu
taslimaa..(..dan tidak ada lagi dalam hatinya perasaan berat (untuk
melaksanakan) dan dia berserah diri dengan penyerahan secara sempurna). Derajat
dan bentuk cinta ini hanya untuk Allah SWT. Ruang ini hanya hak Allah. Sami’na
wa atha’naa. Mendengar-Nya dan menta’ati-Nya.
” Dan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya
kepada ALLAH “. (Qs. Al Baqarah:165)
2. Derajat kedua, adalah `isy-qu, cinta yang merupakan hak Rasulullah.
Penumbuhannya dalam bentuk ‘isyq, keasyikan dalam meneladani Baginda Nabi
Muhammad SAW. Kekasih kita. Kecintaan inilah yang mendorong kita untuk
bercontoh, ittiba’ atas sunnah-sunnahnya. Asyik, kesediaan jiwa dan langkah
untuk berkorban dan berjuang menegakkan risalah yang dibawanya. Kesediaan untuk
berjuang menegakkan nilai-nilai Islam. Asyik dalam menelaah kisah perjalannya,
karena perjalanannya memang penuh cinta, cinta pada ummatnya. Yang dengan
cintanya ia penuh kearifan berdoa bagi anak-anak Thaif yang melemparinya. Ia
tersenyum sabar atas tingkah Yahudi buta yang mencaci makinya. Yang dengan cintanya Sang Nabi menaklukkan jiwa-jiwa manusia
dalam naungan Islam. Bedanya dengan cinta tatayyum adalah cinta `isyq ini tidak
mendorong seseorang untuk menghamba kepada Rasulullah SAW. Tetapi meneladaninya
dengan penuh mesra.
“katakanlah (wahai Muhammad) kepada mereka: jika engkau
mencintai Allah, maka ikutilah aku…”
3. Derajat ketiga, adalah syauq, cinta syauq adalah kecintaan seorang
mukmin dengan mukmin yang lainnya. Antara suami-istri, anak dengan orang
tuanya. Jenis kadarnya adalah kadar dengan komposisi penuh kerinduan.
Mengharmoni. Pengikatnya adalah ikatan iman. Cinta kepada orang-orang yang
beriman mengharuskan kita mencintai semua ‘pekerjaan’ yang mendekatkan kita
pada kecintaan kepada Allah dan RAsul-Nya. Cinta ini membuahkan mawaddah wa
rahmah (kasih sayang) dan menjadi perekat dalam membangun ummat.
4. Derajat keempat, adalah: shababah, kadar kecintaan ini adalah
kecintaan dalam bentuk empati. Peruntukannya kepada sesama muslim. Ruang
perhatiannya lebih dalam dari sekedar simpati. Ia lahir dari ikatan dasarnya
adalah keimanan. Karena Islamnya. Perhatiannya (care) lebih mendalam. Ada
keinginan kuat untuk selalu membahagiankannya. Responsibility. Dorongan jiwa
agar ia selalu bertabur sejuta kebaikan dan kebahagiaan. Tidak sekedar suka,
tetapi masuk ke ruang jiwanya. Lebih menjiwai. Apa yang dirasakannya akan pula kita rasakan. cinta yang
ditujukan kepada sesama muslim sehingga melahirkan ukhuwah Islamiyah. Ada itsar
(selalu ingin mendahulukan saudaranya ketimbang dirinya) dan iffah (menjaga
diri dari menghiba), ia terpuaskan jiwanya menakala ia sanggup keluar dari
persoalan dirinya lalu memberi kemanfaatan untuk kekasihnya
5. Derajat kelima, adalah : `ithf (simpati) yang ditujukan
kepada seluruh manusia. Tanpa memandang ras, suku dan keyakinan. Cinta ini
dimunculkan untuk mengilhamkan seseorang menjalin muamalah dengan keluhuran
budi. menyeru dan menuntunnya ke jalan Allah. Kadarnyapun (hanya) sebatas suka.
Suka itu adalah tarikan jiwa kepada kekasihnya. Rasa suka itu akan mendorong
sang pecinta untuk bisa terampil memilih kata, menata jiwa, menghiasi
tatakrama, lalu berlama-lama dalam membangun hubungan. Untuk apa derajat cinta
ini ditumbuhkan?, Ya. Untuk membimbingnya, mendakwahinya, menuntunnya dan (bahkan)
menyelamatkannya. Banyak kafilah jiwa-jiwa yang tersentuh awalmulanya, oleh
cinta dalam tingkatan ini. Abu Bakar contohnya. Hamzah bin Abdul Muthalib
misalnya. Atau Umar Tilmisani saat sentuhan awal bertemu Imam Hasan Albana.
6. Derajat yang keenam, derajat terendah cinta harta benda. Kecintaan pada materi.
Fitrah ketetapan kecintaan manusia adalah pada materi. Pada benda. Atau yang
menghasilkan materi. Kecintaan pada kedudukan, popularitas, posisi, jabatan.
Islam membenarkan cinta ini. Lalu membimbingnya dalam dalam kadar yang terukur.
Bentuknya `intifaa’ (mendayagunakan/memanfaatkan) nya saja. Pendayagunaan
derajat cinta ini tidak sampai merasuk jiwa, mati-matian mengekalkannya atau membudakkan
diri padanya. Ruangnya sekadar ruang-ruang permukaan. Sebatas kecenderungan
saja. Alaqah, hanya menempel saja, Bak tetasan buliran air di ujung
bebatuan goa, menetes, terlepas jatuh lalu mengumpul kembali. Kadang terlepas
kadang pula tergenggam. Tentang sejauhmana seharusnya cinta seorang muslim
terhadap dunia itulah seorang Salamah bin Dinar berkata, “Jadikan dunia
ini dalam genggaman tanganmu dan jangan jadikan ia dalam lubuk hatimu”. Atau
senandung munajat sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA: “Ya Allah, jadikanlah dunia
ini dalam genggamanku dan jangan jadikan dunia ini dalam hatiku”.
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk
kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit.
dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah [2]: 29)
Semoga postingan ini bermanfaat dunia akhirat ya,
Semua kebenaran dari Allah SWT, dan yg salah-salah dari diri saya.
Terima Kasih..




.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar